Foto 101

[Foto 101] Memotret, Proses Kita Menggubah Suatu Cerita

_mata

Mata adalah alat potret dan rekam yang paling rumit dan canggih yang dimiliki manusia secara gratis, pemberian Tuhan Sang Maha Pencipta. Sebagai sarana perekam dan penyimpanan seluruh prosesnya ada dalam otak kita. Bila kita akan mengingat rekaman yang ada maka semua dapat terputar sebagai kilas balik dalam keadaan sadar ataupun dalam keadaan tak sadar melalui mimpi.

Melihat Bayangan

Masalah akan timbul bila rekaman ini harus kita sampaikan kepada orang lain, karena saat ini kita belum dapat melakukan proses transfer pikiran secara langsung. Oleh sebab itu digunakan sarana lain, semula penyampaian rekaman itu melalui narasi lisan tentang suatu keadaan atau kisah yang terekam oleh mata. Cerita ini bisa di konfirmasi oleh sesama yang melihat, atau dikembangkan karena ada yang melihat dari sudut pandang lain.

Melihat ke depan

Manusia terus berkembang, dan dikenal pula sarana penyampaian rekaman tersebut melalui lukisan. Baik itu lukisan sederhana yang kemudian diseragamkan menjadi bahasa tulisan, sehingga menjadi dasar tutur kata suatu bangsa dan berkembang sesuai dengan kebudayaannya. Ataupun disampaikan melalui lukisan-lukisan yang mewakili rekaman kejadian ataupun berbagai kejadian.

Perspektif

Kemajuan teknologi pada akhirnya memungkinkan kita mengembangkan alat perekam yang kini kita kenal sebagai kamera, baik untuk foto ataupun film. Kamera juga sudah berkembang sangat pesat. Tetapi kegunaannya sebenarnya tetap sama, bagaimana ia digunakan untuk merekam suatu kejadian/keadaan dan menjadi sarana bercerita kepada pihak lain. namun dijaman elektronik dan digital perkembangan penyebarannya sangatlah luas.

Bisa berdeda

Nah setelah memahami bahwa kamera itu bisa kita gunakan untuk merekam segala sesuatu yang terjadi/berlangsung disekitar kita, kita bisa memilih, kisah apa yang akan kita rekam. Suatu cerita selalu tergantung pada pihak yang menceritakan, kebenaran akan menjadi relatif. Sudut pandang siapa yang akan digunakan dalam cerita ini. Ini prerogatif si pemilik cerita. Kita juga bisa membuat suatu cerita pendek, ataupun suatu kisah panjang bahkan berseri tak kunjung selesai, tergantung bagaimana kita mau menyajikannya.

Si pembawa

Suatu cerita yang baik tentu memiliki alur yang jelas, ada tokoh utama, ada benang merah yang dibawakan dalam kisah yang disampaikan. Demikian juga dengan suatu karya fotografi, sebaiknya jelas apa yang akan menjadi tokoh dalam cerita kita, dan agar dapat dinikmati dengan baik maka para pendukung perlu disajikan dengan tidak mengganggu tokoh cerita.  Namun demikian suatu cerita yang lengkap juga tidak menarik bila hal-hal yang menjadi detail pelengkap lupa untuk disampaikan.

Bisa pendek bisa panjang

Sampai disini kita sudah memahami bahwa memotret adalah cara kita menyampaikan pandangan, dari perspektif kita, akan suatu kejadian, keadaan, baik sendiri ataupun berangkaian. Untuk dapat menyampaikan dengan baik dan benar, kita harus dapat merangkai kisah dengan tokoh yang jelas, peran pembantu, dan pelengkap yang diperlukan.  Semua ada tempat masing-masing.

Jangan lupakan detail

Bersambung ……

==> ilustrasi kuda diambil dari kisah kuda Bromo

Standard

7 thoughts on “[Foto 101] Memotret, Proses Kita Menggubah Suatu Cerita

  1. Pingback: [Foto 101] Memotret, Mari Bercerita | Inilah Aku

  2. Pingback: [Foto 101] About Passion (And Street Food Photography) | Inilah Aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s