Belajar Fotografi, Foto 101

[Foto 101] Cahaya Sebagai Sarana Bercerita

Cahaya matahari

Setelah memahami membuat konsep cerita melalui karya foto kita, mari kita lihat sarana utamanya yang tak lain tak bukan adalah Sang Cahaya. Tanpa adanya cahaya jelas tidak ada yang akan bisa kita lihat, oleh sebab itu memang dalam fotografi kita berupaya untuk bisa bercerita dengan menangkap cahaya kedalam media rekam – mewakili apa yang seharusnya tampak oleh mata.

Sumber cahaya utama dan dominan di bumi adalah sinar matahari, baik secara langsung pada siang hari ataupun melalui pantulannya di permukaan bulan pada malam hari. Tentu saja ada berbagai sumber cahaya tambahan lainnya, misalnya aneka lampu, bintang,  ataupun benda yang bisa berpendar lainnya. Intinya adalah adanya rentang yang luas dari cahaya yang ada, dari yang paling terang benderang sampai pada yang sangat amat redup. Menggunakan mata telanjang kita akan terlalu silau saat menatap matahari, dan pastinya tidak bisa berlama-lama melihatnya langsung. Sebaliknya juga dalam keadaan yang sangat gelap maka mata kita perlu waktu lama untuk beradaptasi dan bisa mulai melihat.

cahaya matahari tertutup awan

Upaya kita untuk menangkap cahaya dan menampilkannya dalam sebuah karya foto merupakan suatu seni tersendiri, dan merupakan suatu kombinasi dari tiga hal yang saling mendukung, yakni :

  • Lamanya pemaparan cahaya terhadap media, semakin lama jelas makin banyak cahaya sampai ke media perekam, hal ini diatur oleh kecepatan rana/shutter kamera.
  • Besar/kecilnya saluran cahaya menuju media, semakin besar bukaan diafragma lensa maka makin banyak cahaya bisa lewat dan ini dinyatakan dalam satuan bukaan lensa pada kamera.
  • Tingkat sensitivitas media perekam cahaya yang digunakan, makin sensitif  medianya maka akan makin mampu merekam pada keadaan minim cahaya, sensitivitas saat ini dikenal dengan satuan ISO (jaman dulu ASA).

Satu keadaan pencahayaan tertentu dapat direkam dengan baik oleh kombinasi yang tepat antara ketiga hal tersebut di atas: kecepatan, diafragma dan ISO. Bila salah satu unsurnya dirubah, maka kita harus mengkompensasi dengan menyesuaikan unsur yang lainnya. Misal kecepatan rana kita naikkan, maka perlu dikombinasikan dengan pembesaran diafragma (dan atau menaikkan ISO) sehingga kombinasinya tetap. Kondisi pencahayaan yang diwakili oleh kombinasi ketiga hal ini kita kenal dengan istilah exposure.

Kadang kala kita tak sengaja memotret dimana cahaya kurang baik tertangkapnya dan mengakibatkan foto gelap dan tidak memiliki detail atau tidak adanya obyek yang menjadi fokus cerita, sering kita sebut sebagai kondisi under exposure. Bedakan dengan keadaan dimana kita sengaja memotret dalam keadaan cahaya minim tetapi tetap menampilkan obyek yang menjadi fokus cerita pada foto kita. Hal sebaliknya juga bisa terjadi, yakni keadaan over exposure, dimana terlalu banyak cahaya terekam sehingga foto banyak kehilangan detail.

Bersambung ……

under exposure

Under Exposure

Over Exposure

Over Exposure

Standard

One thought on “[Foto 101] Cahaya Sebagai Sarana Bercerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s