Normal

Okay kalau jeli melihatnya akan nampak adanya hantu yang belum sukses dihilangkan dalam foto HDR ini, atau mungkin lebih tepatnya bukan hantu tetapi malahan adanya bagian yang dihilangkan sebagian sehingga nampak jadi hantu. Tetapi karena harus jeli untuk mencarinya saya biarkan saja kesalahan ini untuk dipelajari lagi kapan-kapan. Tapi di luar itu kemampuan menghilangkan Ghost secara otomatis dalam program Photomatix Pro sudah sangat baik.

Sebetulnya ini adalah bracket pertama dalam seri Jakarta Sepi 2013 yang diniatkan membuat HDR gedung-gedung sepanjang rute yang dilewati. Foto ini diambil dengan 9 bracket untuk HDR, normal exposure pada ISO 800, f/11, 1/750 (+/- @ 1EV). Diolah HDR dengan Photomatix Pro dengan Tonemapping – Detail Enhancer. Proses akhir dalam Lightroom 5.

Nah kalau dilihat data teknis di atas, ada satu lagi kesalahan yang disebabkan kelalaian dalam mempersiapkan settingan awal. Apa ya kesalahannya? … Betul sekali, setelan ISO saudara-saudaraku, karena sebelumnya digunakan memotret indoor jadi lupa untuk menurunkan kembali settingan ISO ke yang paling rendah yaitu ISO 100 di kamera saya.

Mari kita lihat kembali check list persiapan memotret HDR: (Lihat artikel-artikel sebelumnya supaya lebih jelas)

  1. Pastikan membawa tripod dan kamera ada tripod plate (pernah kejadian lupa bawa plate)
  2. Pastikan baterai cukup, sebaiknya dicharge semalam sebelum digunakan biarpun baru terpakai sebagian. Bawa cadangan baterai bila memiliki.
  3. Pastikan memory card ada, dan masih cukup utuk keperluan memotret. Bawa cadangan memory card secukupnya bila memperkirakan akan banyak memotret.
  4. Untuk HDR jangan lupa membawa remote trigger (baik kabel ataupun wireless).
  5. Pastikan settingan sesuai untuk foto yang akan dibuat. Cek ISO, WB, shutter release, self timer, metering kamera, exposure compensation dll.
  6. Bila memungkinkan bawa teman untuk memotret bersama, akan lebih nyaman dan aman.

Nah ternyata ada satu lagi yang belum diset dengan baik untuk HDR, saat awal digunakan metering masih pada kondisi spot metering, padahal biasanya saya lebih suka menggunakan matrix metering. Ini juga baru disadari setelah beberapa saat. Hmm .. apa perlu disiapkan checklist tertulis ya?

Proses akhir dalam Lightroom 5 memungkinkan saya dengan mudah untuk mengetes fungsi Upright – Vertical pada koreksi lensanya – dalam hal ini untuk menegakkan gedung yang terdistorsi karena pemakaian lensa ultra wide. Dampak dari koreksi ini adalah adanya bagian yang harus dicrop (yang bila menggunakan Photoshop bisa dikoreksi lagi tanpa harus di crop … itu bedanya program mahal ya).

Koreksi Vertikal

Sedikit berbeda dengan awalnya … mana yang lebih baik? Tergantung selera pribadi tentunya.

Fotografi, HDR, Street Photography

Jakarta Sepi: HDR Ada Hantunya

Image

One thought on “Jakarta Sepi: HDR Ada Hantunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s