This time I had the chance to try the Fujifilm XT-1 with it’s kit lens the 18-135 WR.

These are straight out of the camera results, shot using the remote application paired to my iPhone 5. I have not checked the result in a computer, since at the time being we are still waiting for our ferry to come.

Yes I am testing the camera in Tidung Island, about 90 minutes by ferry from Jakarta Ancol Marina.

IMG_9381.JPG

IMG_9383.JPG

Review, Snapshot, Street Photography

First Impression With Fujifilm XT-1 + 18-135 WR

Image
Review

Impresi Pertama Kamera Fujifilm X-Pro 1 Dan Lensa Fujinon XF 27mm/2.8 Pancake

Fujifilm X-Pro

Setelah berkesempatan mencoba produk-produk terbaru Fujifilm di pameran Focus yang baru berakhir. Kemarin mendapat pinjaman dari seorang teman berupa kamera Fujifilm X-Pro 1 dengan lensa pancake Fujinon XF 27mm/2.8 nan mungil.

Fujinon XF 27mm/2.8

Lensa ini sesuai tipenya, merupakan seri pancake yang sangat mungil dan ringan, cocok untuk street photography ataupundibawa  travel. Apalagi dengan panjang fokal 27mm yang setara 40mm pada kamera full-frame, yang merupakan bidang pandang mata normal. Jadi foto yang kita ambil merepresentasikan apa yang dilihat mata kita sendiri. Dari sisi harga juga merupakan yang paling murah pada seri lensa Fujinon XF saat ini.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Nah jarak fokus minimal lensa ini adalah 60cm saat normal, dan 34cm pada saat pengaturan makro digunakan. Berbeda dengan saat menggunakan DSLR yang umumnya sudah cukup panjang jarak antara sensor dengan ujung lensa, pada kamera dan lensa ini jaraknya hanya dekat sekali sehingga untuk mencapai jarak fokus minimal seolah masih cukup jauh dari kita. Ini menimbulkan kegalauan saat pertama menggunakan, karena harus mundur agak jauh untuk mengunci fokus.

Shot pertama, masih belum bisa fokus

Shot pertama, masih belum bisa fokus

Kecepatan dan kenyamanan autofokus pasti kalah dari seri bukan pancake, apalagi dari Fujinon XF 23mm/1.4 lensa yang pernah saya coba sebelumnya di kamera Fujifilm X-E2. Maklum saja lensa itu harganya lebih dua kali lipat lensa pancake ini. Pastilah ketajaman dan hasilnya berbeda, namun karena tidak pernah dicoba secara bersamaan maka saya tidak bisa berkomentar banyak soal ini. 

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Fujifilm X-Pro 1

Ini kamera serius pertama Fujifilm yang dikeluarkan tahun 2012 lalu, sudah banyak review bisa dilihat. Nah terus terang pada saat produk ini dikeluarkan keberatan orang-orang adalah harganya yang sangat tinggi, meskipun banyak kamera bagus dikeluarkan Fujifilm sebelumnya. Namun memang ini kamera range finder berkualitas, nampak dari body berbahan aluminium alloy yang nampak solid dan kokoh. Kamera ini memiliki jendela bidik optik yang sangat jernih, serta lengkap dengan berbagai informasi yang dibutuhkan untuk memotret dengan baik.

Fujifilm X-Pro 1

Nah masalah pertama yang dihadapi dengan sistem baru adalah pengaturan kamera. Maklum setelah sekian lama SLR maupun DSLR  yang digunakan berbeda sistem dan navigasinya. Tapi ini hanya masalah kebiasaan saja dan dapat diatasi dengan cepat kalau memang sering digunakan. Jendela bidik optikal sistem range finder ini bisa memberi kejutan bagi yang tidak biasa, karena tidak seluruh yang dilihat akan terekam, tetapi hanya bagian yang digariskotak saja. Pengaturan manual melalui tombol putar kecepatan di atas dan pengaturan diafragma di bawahnya memberi kesan yang menarik dan kemudahan dalam operasional kamera ini.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Pada saat awal saya gunakan kamera ini langsung pada keunggulan sistem Fujifilm, pemotretan pada keadaan low-light dengan ISO tinggi. Dalam hal ini saya gunakan ISO 1600 pada dua lokasi rumah makan dan ISO 6400 di halaman rumah. Hasil yang diperoleh sangat baik dan cukup memadai.

Ini situasi dalam restoran kecil berpenerangan normal, menggunakan ISO 1600 bukaan diafragma f 2.8 dan kecepatan otomatis (aperture priority). Memuaskan juga untuk food photography secara langsung tanpa penerangan tambahan.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Dibawah ini hasil menggunakan ISO 6400 dengan bukaan diafragma f 2.8 dan kecepatan otomatis (aperture priority). Pengolahan semua foto hanya di Lightroom; mengatur white balance, exposure sekadarnya dan sedikit sharpening dan noise reduction normal saja.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Kemampuan menangkap detail Fujifilm sudah kita kenal sejak dulu, ini saya coba pada bunga berwarna putih. Masih pada ISO 1600 f.28 saat sore hari dalam tempat teduh kena bayangan.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Satu masalah yang kurang adalah baterai yang kecil dan relatif cukup cepat habis, bagi yang berminat dengan kamera ini dan ditujukan penggunaan terus menerus seharian sebaiknya menambah jumlah baterai yang dimiliki. Apalagi kalau sering menggunakan live view dan melihat LCD.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Kesimpulan

  • Pasangan kamera dan lensa yang dicoba cukup menarik untuk penggunaan sehari-hari, street photography dan travel photography karena ringan, kuat dan cukup menggunakan tas kecil saja sudah cukup untuk kamera, ekstra baterai, kartu memory dan lainnya.
  • Bisa digunakan untuk mempelajari sistem Fujifilm bagi yang berminat untuk berganti sistem atau memiliki sistem kamera mirrorless yang ringan dan handal.

Bagi saya sendiri ini merupakan kesempatan untuk mempelajari lebih baik sistem Fujifilm dan mulai membandingkan dengan sistem lain untuk mendapatkan alternatif yang ringan dari sisi bobot, memberi hasil baik, dan tidak memberatkan kantong. Nanti setelah lebih lama dan fasih menggunakan akan saya lanjutkan laporannya.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Lihat juga:

Standard
Review

Pengalaman Menggunakan Kamera Nikon D90

Ngobaran Beach - Iksa Menajang

Awal produksi kamera ini tahun 2008, dan muncul sebagai DSLR pertama yang memiliki kemampuan rekam video (meskipun tidak canggih disisi ini, tetapi tetap memulai trend baru dalam DSLR). Mengenai kehandalannya silahkan simak dari berbagai review dalam link ini.

Saya mulai menggunakan kamera ini saat harganya mulai turun menjadi sekitar 9 juta pada akhir tahun 2009, sebelumnya dikisaran 11 juta rupiah body only (bandingkan dengan Nikon D300 yang masih sekitar 15 jutaan saat itu dan Nikon D700 masih diatas 20 jutaan). Saat ini untuk barunya sekitar 8 jutaan, naik dari level 6.5 jutaan saat dollar belum melonjak. Kenapa ceritanya panjang lebar, ini sekedar menggambarkan bahwa meskipun sudah beredar sejak 6 tahun lalu namun kamera ini masih tetap laris di pasar baik baru maupun bekas.

Kunci - Iksa Menajang

Nah beberapa hal berikut ini yang membuat saya menggunakan kamera Nikon D90 dan tetap menggunakan sampai periode waktu yang lama meskipun keluar banyak seri kamera lain.

# Bisa gunakan lensa AF-D

Ya, ini seri amatiran pertama DSLR Nikon yang bisa gunakan lensa-lensa auto fokus lama, yakni seri AF-D, yang relatif murah dibanding AF-S. Performa lensa-lensa ini juga bantak yang sudah teruji bertahun-tahun, juga banyak di pasar lensa bekas juga. Selain itu juga metering masih jalan untuk seri lensa yang lebih tua lagi, yaitu seri AI dan AIs. Saya bahkan bisa menggunakan lensa auto fokus Tamron 28-300 yang dibeli sejak jaman menggunakan SLR Nikon seri F.

Saat dibeli fitur ini hanya ada pada kamera profesional, sekelas Nikon D300, D700 ke atas. Eh iya ini juga masih tetap sampai sekarang lho, hanya kamera profesional dan semi-profesional saja yang bisa. Untuk seri pemula Nikon D3x00 dan D5x00 wajib pakai lensa AF-S karena tidak ada motor penggerak lensa di body.

Pintu

# Teknologi masih relevan

Meskipun dari sisi Megapixel relatif rendah dibanding DSLR ataupun mirrorless saat ini, namun berbagai kemampuan fotografi yang ada masih tetap relevan untuk saat ini. Sensor dan autofokus tidak menghalangi proses kreatifitas sehari-hari.

Juga dengan adanya live view, sudah sangat membantu meski akibatnya boros baterai. Ini fitur penentu juga saat akan membeli waktu itu. [Saat ini sih live view sudah fitur wajib pada kamera, apalagi pada mirrorless yang Viewfinder malahan optional.]

Bapak yang pede tapi ramah (D90+17-50/2.8 @iso200, f2.8, 1/250)

Bapak yang pede tapi ramah (D90+17-50/2.8 @iso200, f2.8, 1/250)

# Fisik tahan banting

Body kamera sebagian menggunakan magnesium alloy, menjadikan Nikon D90 berbody semi-pro. Kalau pro konon full body menggunakan magnesium alloy. Memang tidak di klaim weather sealed seperti body pro. Tapi pengalaman pribadi kalau cuma hujan kecil tidak masalah. Ke pantai, hutan dan jalan-jalan naik motor aman saja.

Juga seorang travel journalist tulen bahkan membawa Nikon D90 bertualang keliling Afganistan yang penuh debu sampai ke puncak es segala, tidak menemui masalah tuh.

segelas air es siap diminum ... segarnya

segelas air es siap diminum … segarnya

# Harga relatif murah

Nah untuk level pemula yang tidak mementingkan video terlalu bagus, masih konsentrasi penuh pada memotret, dari sisi harga rasanya Nikon D90 adalah DSLR yang sangat memadai. Memang dibanding seri yang lebih baru seperti Nikon D7000/7100 kalah fitur, tetapi harganya juga berbeda lumayan.

Kalau mau lebih murah bisa cari yang bekas tapi masih baik. Dipasangkan dengan lensa AF-D 50mm/1.8 sangat ideal.

Kamera ini sangat saya anjurkan untuk pemula yang mau menggunakan DSLR Nikon. Tentu saja bisa untuk penggunaan profesional dalam liputan-liputan.

Search Nikon D90 di blog ini

Foto pohon di halaman Istana Bogor saat Bogor Photo Walk. (D90 + 17-50mm/2.8+variND filter VC @iso200,f11,1/10)

Foto pohon di halaman Istana Bogor saat Bogor Photo Walk. (D90 + 17-50mm/2.8+variND filter VC @iso200,f11,1/10)

Lihat juga:

Standard