CItiscape Fujifilm HDR

This photo was shot during an early dinner at a mall facing the office building block across. It was lucky that I got a window side table so I can take some shots, about 150 frames actually. Starting from when it was still bright upto blue hour and darkness took over.

Photo was shot at base ISO of 200 on my Fujifilm Xt1 camera, 3 brackets – with a stop difference each. Since it is slow exposure the dining table was used as base for stability, and some covers provided to eliminate reflections at the window glass.

(The technical part will be written in Indonesian language)

My other HDR photos ..

HDR Dengan Kamera Fujifilm XT1

Ini adalah citiscape HDR pertama yang saya buat dengan kamera Fujifilm XT1, menggunakan lensa Fujinon 10-24mm. Kelemahan kamera ini untuk HDR adalah cuma bisa melakukan bracketing exposure maksimum 3 frame dengan rentang 1 stop, tidak bisa lebih baik jumlah frame atau selisih stopnya. Tahapan yang dilakukan sama seperti membuat HDR lainnya:

  • Memotret dengan menggunakan file RAW, dalam hal ini ekstensi RAF.
  • Atur kamera ke fungsi exposure bracketing dengan selisih satu exposure.
  • Stabilisasi kamera dengan meja, dan atur komposisi. Pastikan horizon lurus pada live view.
  • Cari titik fokus (setting pada tombol AF-L adalah untuk lock setelah focus diperoleh jadi tidak berubah lagi)
  • Cari eksposure yang tepat, karena ISO dan aperture fix maka kecepatan yang dicocokkan.
  • Gunakan timer untuk mengurangi getaran berhubung tidak pakai shutter release. Saya setel pada 2 detik.
  • Usahakan tidak ada getaran lain selama proses memotret.
  • Buka file pada Lightroom dan pilih ketiga exposure yang ada, ekspor ke Photomatix untuk pengolahan HDR.
  • Pada Photomatix pilih preset yang sesuai dan disesuaikan detailnya dengan selera kita. Saya gunakan salah satu preset Fusion yang ada, karena kelihatan sangat natural untuk foto ini.
  • Hasil Photomatix dikembalikan ke Lightroom dan diberikan sentuhan akhir sebelum diekspor langsung ke Flickr.

Demikian sharing saya membuat foto HDR ini dengan Fujifilm, Photomatix dan Lightroom.

HDR

Blue Hour Citiscape

Image

Ganjuran Church in HDR

Not so long ago,

A mighty earthquake shattered,

The whole province,

Taking many casualties.

Survivors have to rebuild from scratch,

Faith is the foundation,

Humanity above all,

Hard work and dedication is the key.

[Ganjuran, 2014]

HDR

A Classical Worship Place

Image

Merapi Sianok - Iksa Menajang

Land of active volcano

Is a blessed land

Because it will be

Fertile from the volcanic ashes

Thrown out during eruptions.

On the other side

Each time there is an eruption

There will be casualties

People, animal and crops.

It is really a balancing act

Of being in the ring of fire.

[Bukittinggi 2013]

Teknis Fotografi

Foto ini dibuat HDR dari 9 frame dengan base exposure ISO 100, f/11, 1/250 @14mm (+/- 4 x @1stop).

  1. Pemotretan menggunakan tripod.
  2. Bracketing diset auto bracketing 9 frame mulai dari normal, 4 under, 4 over
  3. Menggunakan self-timer 2 detik dengan 9 frame pemotretan berjeda 0.5 detik.
  4. Fokus menggunakan fasilitas live-view, kemudian dimanualkan.
  5. Eksposure disetel manual berdasarkan light meter kamera.

Kesulitan foto pada kontras cahaya akibat arah lensa yang menentang matahari langsung, meskipun sebagian tersamar dibalik dedaunan. Mungkin sumber cahaya yang sangat kuat seperti matahari ini memang sebaiknya terletak di ujung-ujung saja, sehingga tidak memberikan dampak yang terlalu besar secara keseluruhan.

Proses pengeditan menggunakan Photomatix Pro, Color Efex Pro dan Lightroom 5.

  1. Kesembilan bracket diekspor ke Photomatix dari Lightroom, menggunakan file RAW/NEF tanpa olahan.
  2. Dalam Photomatix dicari padanan yang cocok. Untuk foto ini saya cenderung untuk menggunakan Contrast Optimizer Tone Mapping sebagai pengolahnya. Setelah mencoba lebih detail pada berbagai pilihan slidernya, saya memilih untuk menggunakan Contrast Optimizer dengan Strength yang agak kuat, Tonemapping dll slider cenderung netral; ini untuk mendapat keseimbangan antara langit, tumbuhan di atas dan pemandangan di bawahnya.
  3. Karena foto cenderung statis maka tidak digunakan deghosting, toh sedikit pada daun cukup menarik, maka tidak masalah bila ada efek geraknya.
  4. Setelah selesai proses HDR maka file dibuka di Color Efex Pro sedikit penyesuaian warna dan detail.
  5. Setelah itu penyesuaian akhir pada Lightroom meliputi profil lensa yang digunakan, exposure akhir sebelum di ekspor sebagai file JPG untuk penggunaan di web.

Silahkan baca lebih lanjut mengenai HDR pada halaman ini dan pada hasil pencarian HDR di blog ini.

Juga lihat:

HDR, Landscape

Mount Merapi And Ngarai Sianok (Another HDR Photo)

Image

Petak Sembilan - Iksa Menajang

Going inside any worship place

It is a time for us to look

For other sides of our life

And also learn to look

From other sides of our life

As we do not live alone

And we do not just live here

Another place will be for us

Somewhere

At the time we cannot predict

Or expect.

[Jakarta, Petak Sembilan – Imlek 2014]

This is another HDR photo, from 5 frames with base exposure of ISO 100, f/18, 1/2 @24mm (+/- 2 x @1stop).

* After a while not precessing HDR and posting it, now have some time to do basic HDR again.

Teknis Fotografi

Foto ini dibuat HDR dari 5 frame dengan base exposure ISO 100, f/8, 1/2 @24mm (+/- 2 x @1stop).

  1. Pemotretan menggunakan tripod.
  2. Bracketing diset auto bracketing 5 frame mulai dari normal, 2under, 2 over
  3. Menggunakan self-timer 2 detik dengan 5 frame pemotretan berjeda 0.5 detik.
  4. Fokus menggunakan fasilitas live-view, kemudian dimanualkan.
  5. Eksposure disetel manual berdasarkan light meter kamera.

Kesulitan foto pada kontras cahaya luar dengan penerangan di dalam ruangan kelenteng. Kelihatannya rentang 5 stop belum cukup memadai.

Proses pengeditan menggunakan Photomatix Pro, Color Efex Pro dan Lightroom 5.

  1. Kelima bracket diekspor ke Photomatix dari Lightroom, menggunakan file RAW/NEF tanpa olahan.
  2. Dalam Photomatix dicari padanan yang cocok. Dari alternatif yang ada untuk foto ini saya cenderung untuk menggunakan Contrast Optimizer Tone Mapping ataupun Detail Enhancer Tone Mapping. Setelah mencoba lebih detail pada berbagai pilihan slidernya, saya memilih untuk menggunakan Contrast Optimizer, untuk mendapat keseimbangan antara langit, kolong meja, lilin, loteng dan cahaya dari luar..
  3. Karena foto cenderung statis maka tidak digunakan deghosting, toh pergerakan asap dan api cukup menarik bila ada efek geraknya.
  4. Setelah selesai proses HDR maka file dibuka di Color Efex Pro sedikit penyesuaian warna dan detail. Masih nampak banyak bagian yang warnanya masih belum cocok, tetapi agak sulit dibenahi tanpa layer dan masking dari Photoshop.
  5. Setelah itu penyesuaian akhir pada Lightroom meliputi profil lensa yang digunakan, exposure akhir sebelum di ekspor sebagai file JPG untuk penggunaan di web.

Silahkan baca lebih lanjut mengenai HDR pada halaman ini dan pada hasil pencarian HDR di blog ini.

Juga lihat:

HDR

Looking From The Other Side .. HDR Inside A Temple

Image

Borobudur Stupa B/W

This is an example of a mistake done intentionally. Making photos with the sun in frame is not easy, and could be more difficult once you are intending to create an HDR of it.

The photo was shot in Borobudur Temple after the sun has risen but still quite low. As can be seen it is about at the top of the stupa in front of me. All the necessary thing to create an HDR photo was complied with. A stable tripod, pre-focus with live-view and turn to manual, manual exposure set, and bracketed adequately (7 frames, base exposure +/- 3 x @1 stop) – ISO 100, f/8, 1/125 @70mm.

What is the mistake:

  • Going against the sun using a mid-tele lens @70mm, meaning that a lot of portion of the sensor is getting so much direct light.
  • That means loss of contrast and a very soft and strange color result.

Why I do it? I love making landscape photos with the sun being a part of it directly, but most of  them were using wide and ultra-wide lenses; so it is worth to try with a mid range tele.

Processing the photo to Black & White as above seems to help a bit.  Processing the photo in color, as it is gives an analog soft colored and strange contrast feel.

Even though it is a mistake, still we can learn from mistakes. Just choose the one that suits us or dumpt it.

See also:

Stupa Borobudur

Black & White, HDR

Mistake Done Intentionally, Could Be Good Or Bad

Image

Situ Gunung HDR - Iksa Menajang

Again

Staring at the beauty

Of the morning sun

Rays of light through the trees

Water vapor from the lake

The empty boat

Is a strange equation

In a place to enjoy scenery.

[Situ Gunung Adventures 2013]

This is another HDR photo, from 9 frames with base exposure of ISO 100, f/11, 1/180 @14mm (+/- 4 x @1stop).

.

Teknis Fotografi

Foto ini dibuat HDR dari 9 frame dengan base exposure ISO 100, f/11, 1/180 @14mm (+/- 4 x @1stop).

  1. Pemotretan menggunakan tripod.
  2. Bracketing diset auto bracketing 9 frame mulai dari normal, 4 under, 4 over
  3. Menggunakan remote wireless.
  4. Fokus menggunakan fasilitas live-view, kemudian dimanualkan.
  5. Eksposure disetel manual berdasarkan light meter kamera.

Sebagaimana kesulitan pada foto-foto sejenis, disini masalah pada matahari yang persis berhadapan dengan lensa/kamera dan masuk ke dalam frame foto sebagai salah satu objek. Bahkan ada refleksi matahari di danau juga.

Proses pengeditan menggunakan Photomatix Pro, Photoshop CC dan Lightroom 5.

  1. Kesembilan bracket diekspor ke Photomatix dari Lightroom, menggunakan file RAW/NEF tanpa olahan.
  2. Dalam Photomatix dicari padanan yang cocok. Dari alternatif yang ada untuk foto ini saya cenderung untuk menggunakan Contrast Optimizer Tone Mapping ataupun Detail Enhancer Tone Mapping. Setelah mencoba lebih detail pada berbagai pilihan slidernya, saya memilih untuk menggunakan Detail Enhancer, untuk mendapat keseimbangan antara langit, matahari dan perahu; juga pada bagian hutan.
  3. Satu hal yang tertinggal dalam proses adalah deghosting, karena foto menggunakan tripod, ternyata kan bagian perahu bisa bergerak karena bersandar pada air.
  4. Setelah selesai proses HDR maka file dibuka di Photoshop untuk tambahan sharpening dan sedikit penyesuaian.
  5. Usai dari Photoshop penyesuaian akhir pada Lightroom meliputi profil lensa yang digunakan, exposure akhir sebelum di ekspor sebagai file JPG untuk penggunaan di web.

Silahkan baca lebih lanjut mengenai HDR pada halaman ini dan pada hasil pencarian HDR di blog ini.

Juga lihat:

HDR

An Empty Boat At The Lake – Another Simple HDR

Another example of HDR photo and how to take the photos. Since HDR photo is not something done instaneously then preparation and thinking must accompany its making. Processing is done with Detail Enhancer Tone Mapping dan finishing in Photoshop. Base exposure of ISO 100, f/11, 1/180 @14mm.

Image
Foto 3 - Final

Foto 3 – Final

Bukittinggi

The city up the hills

In fact the city has a lot of hills

At one of the hills is

Where the mayor’s office resides

A place with beatiful scenery

Where you sit down and imagine good things

Then you have all the energy to work

I hope this brings the best

For the people of Bukittinggi

[Bukittinggi Adventures 2013]

.

Teknis Fotografi

Foto dibuat HDR dari 9 frame dengan exposure dasar ISO 100, f/11, 1/350 @14mm (+/- 4 x @1stop).

  1. Kamera menggunakan tripod, pengaturan agak rendah agar bagian bawah gedung tersamar oleh papan kantor walikota.
  2. Bracketing diatur auto bracket 9 exposure dari normal, under, dan over.
  3. Pemotretan menggunakan selftimer 10 detik dan 9 frame selisih 0.5 detik.
  4. Fokus menggunakan live view, dengan titik fokus yang dikehendaki ada pada bagian papan nama. Dengan diafragma pada f/11 maka cukup untuk mendapatkan bidang tajam yang luas.
  5. Exposure berdasarkan metering pada kamera.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengolahan: adanya matahari dalam frame dan kesulitan pada bidang langit dan awan.

Untuk eksperimen mendapatkan warna yang lebih natural maka foto diolah sebagai berikut:

  • Foto 1, diolah dari 9 frame menggunakan Photomatix Pro. Proses yang digunakan adalah Contrast Optimizer Tone mapping dengan strength dan tone maksimum, sedangkan white, black dan midtone clipping di atur cukup rendah.
Foto 1 - HDR

Foto 1 – HDR

  • Foto 2, dari hasil olahan HDR diolah kembali dengan Silver Efex Pro, untuk mendapatkan file HDR hitam putih.
Foto 2 - Black & White

Foto 2 – Black & White

  • Foto 3, pada Photoshop dibuat dua layer, masing-masing dari Foto 1 (HDR awal, berwarna) dan Foto 2 (BW dari HDR), layer ke dua sebagai overlay dan dengan 50% opacity. Sebetulnya perubahan yang diperoleh hanya sedikit tetapi lebih menyenangkan dilihat.
  • Silahkan membandingkan ketiganya.

Silahkan baca lebih lanjut mengenai HDR  pada halaman ini, pada hasil pencarian HDR di blog ini.

HDR, Post Processing

The Office Of Bukittinggi’s Mayor

HDR photo is created from 9 frames with a base exposure of ISO 100, f/11, 1/350 @ 14mm.
Final image created with Photomatix Pro, Silver Efex Pro and using Photoshop.

Image