Lemon Leaves - Iksa Menajang

In cooking

Lemon leaves are very useful

They give a very nice flavor

One that is very fresh.

My garden has several

Lemon trees

The fruits are not

The aim for the trees

We take turns in picking the leaves

So that the herb is fresh

For cooking.

What is better than fresh?

[Jakarta 2014]

Others of interest:

Nature

The Lemon Leaves

Image

Rat Trap - Iksa menajang

At the place I live

It is so common to see

Rats and mouse running all over

On the sewerage

At people’s yard

Inside the house

Everywhere.

Small ones, big ones

Rat and mouse is a daily fact.

Outside the house they scour for garbage

Or others in the garden.

In the house

They consume everything.

How about a trap?

[Jakarta 2014]

Rat Trap - Iksa Menajang

See also:

Snapshot

Rat Trap

Image
Uncategorized

Creative Commons On This Blog

Creative Commons

I don’t make a living of the photos shared in this blog, and felt that placing a All Reserved Copyright notification is not appropriate.  Some of you that choose to explore this blog will find that in the main widget used there is a sign of Creative Commons licensing like the picture below.

CC BY ND NC

It is a sign telling all that : (view in full here)

You are free to:

  • Share — copy and redistribute the material in any medium or format
  • The licensor cannot revoke these freedoms as long as you follow the license terms.

Under the following terms:

  • No additional restrictions — You may not apply legal terms or technological measures that legally restrict others from doing anything the license permits.

Notices:

  • You do not have to comply with the license for elements of the material in the public domain or where your use is permitted by an applicable exception or limitation.
  • No warranties are given. The license may not give you all of the permissions necessary for your intended use. For example, other rights such as publicity, privacy, or moral rights may limit how you use the material.

This is the link to the Legal Code ...

Read this if you want to know more about The Creative Commons

So please use any photos of mine here on your blog, or other mediums, as long as you give proper credits to me, but please do not use it for commercial purpose it or make any derivatives of it for distribution. Some of the older photos are print ready actually. Most of the new ones are watermark free.

Standard

Fujifilm X-Pro 1

A baby

Still crawling not walking or running

Still eating soft foods

Sleeping, eating and playing

Is how a baby spend time

Words mumbled not understood by adults

Still every baby has their own charm.

[Jakarta, Baby and Batik – 2014]

* Still is photographed using the Fujifilm X Pro-1

This marks the 500th post in the blog. Still a baby as the picture above. This is hope and prayer for the future.

Thank you very much to:

  • Those who followed this blog through WordPress reader or mail, or other readers.
  • Also for those who are exposed through Facebook Pages, Twitter, Linked-In , Path, Instagram and all other media.
  • Or those who visited from my other blogs.
  • Or those referred from communities mailing lists I joined.

For those who have liked the posts in the blog I thank you very much for the appreciation.

For those who nominated awards for this blog, thank you very much. But until now I am not able respond in distributing them.

For those who have commented in this blog, thank you very much…..

Here the top commentators from the dashboard:

setia1heri

Asop

Sreejith Nair

youngatfifty

Emanuel Setio Dewo

akbary

See you all again and once again thank you for the support.

Portrait, Uncategorized

Post #500 Still A Baby

Image
Review

Impresi Pertama Kamera Fujifilm X-Pro 1 Dan Lensa Fujinon XF 27mm/2.8 Pancake

Fujifilm X-Pro

Setelah berkesempatan mencoba produk-produk terbaru Fujifilm di pameran Focus yang baru berakhir. Kemarin mendapat pinjaman dari seorang teman berupa kamera Fujifilm X-Pro 1 dengan lensa pancake Fujinon XF 27mm/2.8 nan mungil.

Fujinon XF 27mm/2.8

Lensa ini sesuai tipenya, merupakan seri pancake yang sangat mungil dan ringan, cocok untuk street photography ataupundibawa  travel. Apalagi dengan panjang fokal 27mm yang setara 40mm pada kamera full-frame, yang merupakan bidang pandang mata normal. Jadi foto yang kita ambil merepresentasikan apa yang dilihat mata kita sendiri. Dari sisi harga juga merupakan yang paling murah pada seri lensa Fujinon XF saat ini.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Nah jarak fokus minimal lensa ini adalah 60cm saat normal, dan 34cm pada saat pengaturan makro digunakan. Berbeda dengan saat menggunakan DSLR yang umumnya sudah cukup panjang jarak antara sensor dengan ujung lensa, pada kamera dan lensa ini jaraknya hanya dekat sekali sehingga untuk mencapai jarak fokus minimal seolah masih cukup jauh dari kita. Ini menimbulkan kegalauan saat pertama menggunakan, karena harus mundur agak jauh untuk mengunci fokus.

Shot pertama, masih belum bisa fokus

Shot pertama, masih belum bisa fokus

Kecepatan dan kenyamanan autofokus pasti kalah dari seri bukan pancake, apalagi dari Fujinon XF 23mm/1.4 lensa yang pernah saya coba sebelumnya di kamera Fujifilm X-E2. Maklum saja lensa itu harganya lebih dua kali lipat lensa pancake ini. Pastilah ketajaman dan hasilnya berbeda, namun karena tidak pernah dicoba secara bersamaan maka saya tidak bisa berkomentar banyak soal ini. 

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Fujifilm X-Pro 1

Ini kamera serius pertama Fujifilm yang dikeluarkan tahun 2012 lalu, sudah banyak review bisa dilihat. Nah terus terang pada saat produk ini dikeluarkan keberatan orang-orang adalah harganya yang sangat tinggi, meskipun banyak kamera bagus dikeluarkan Fujifilm sebelumnya. Namun memang ini kamera range finder berkualitas, nampak dari body berbahan aluminium alloy yang nampak solid dan kokoh. Kamera ini memiliki jendela bidik optik yang sangat jernih, serta lengkap dengan berbagai informasi yang dibutuhkan untuk memotret dengan baik.

Fujifilm X-Pro 1

Nah masalah pertama yang dihadapi dengan sistem baru adalah pengaturan kamera. Maklum setelah sekian lama SLR maupun DSLR  yang digunakan berbeda sistem dan navigasinya. Tapi ini hanya masalah kebiasaan saja dan dapat diatasi dengan cepat kalau memang sering digunakan. Jendela bidik optikal sistem range finder ini bisa memberi kejutan bagi yang tidak biasa, karena tidak seluruh yang dilihat akan terekam, tetapi hanya bagian yang digariskotak saja. Pengaturan manual melalui tombol putar kecepatan di atas dan pengaturan diafragma di bawahnya memberi kesan yang menarik dan kemudahan dalam operasional kamera ini.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Pada saat awal saya gunakan kamera ini langsung pada keunggulan sistem Fujifilm, pemotretan pada keadaan low-light dengan ISO tinggi. Dalam hal ini saya gunakan ISO 1600 pada dua lokasi rumah makan dan ISO 6400 di halaman rumah. Hasil yang diperoleh sangat baik dan cukup memadai.

Ini situasi dalam restoran kecil berpenerangan normal, menggunakan ISO 1600 bukaan diafragma f 2.8 dan kecepatan otomatis (aperture priority). Memuaskan juga untuk food photography secara langsung tanpa penerangan tambahan.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Dibawah ini hasil menggunakan ISO 6400 dengan bukaan diafragma f 2.8 dan kecepatan otomatis (aperture priority). Pengolahan semua foto hanya di Lightroom; mengatur white balance, exposure sekadarnya dan sedikit sharpening dan noise reduction normal saja.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Kemampuan menangkap detail Fujifilm sudah kita kenal sejak dulu, ini saya coba pada bunga berwarna putih. Masih pada ISO 1600 f.28 saat sore hari dalam tempat teduh kena bayangan.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Satu masalah yang kurang adalah baterai yang kecil dan relatif cukup cepat habis, bagi yang berminat dengan kamera ini dan ditujukan penggunaan terus menerus seharian sebaiknya menambah jumlah baterai yang dimiliki. Apalagi kalau sering menggunakan live view dan melihat LCD.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Kesimpulan

  • Pasangan kamera dan lensa yang dicoba cukup menarik untuk penggunaan sehari-hari, street photography dan travel photography karena ringan, kuat dan cukup menggunakan tas kecil saja sudah cukup untuk kamera, ekstra baterai, kartu memory dan lainnya.
  • Bisa digunakan untuk mempelajari sistem Fujifilm bagi yang berminat untuk berganti sistem atau memiliki sistem kamera mirrorless yang ringan dan handal.

Bagi saya sendiri ini merupakan kesempatan untuk mempelajari lebih baik sistem Fujifilm dan mulai membandingkan dengan sistem lain untuk mendapatkan alternatif yang ringan dari sisi bobot, memberi hasil baik, dan tidak memberatkan kantong. Nanti setelah lebih lama dan fasih menggunakan akan saya lanjutkan laporannya.

Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1 Fujifilm X-Pro 1

Lihat juga:

Standard
Fotografi, Uncategorized

Display Calibration Using Spyder 4 Elite

All this time I am only using the notebook monitor as it is, meaning that calibration only using the facility provided by the operating system to calibrate the monitor for best use. All could be found in the Control Panel, in the Display or Color Management icons. But for photographs actually it is not sufficient to get the intended actual color, either for printing or for web display. So all of the viewer here have to forgive my posts prior to this if the color of the photos is not correct or not as intended. Either it is the detail, saturation, color and others that relate to it.

Spyder4Elite - Iksa Menajang

Last Sunday I had access to the Spyder 4 Elite display calibration unit and used it to calibrate my notebook’s display. The process is very easy, just install the software provided and follow the step by step instructions from the software. Than the notebook display is fully calibrated and analysed. Since my notebook is not the high end type which is fully adjustable, at least it is still able to be calibrated. Well for those who uses Apple products such as iMac, Mac Book etc, might not have the same problem as Windows based PC’s in color management so the urgency to calibrate is not so much.

Calibrating - Iksa Menajang

The result is striking, at least from the photos in the web from professional photographers which is really looking different now. I hope that my photo processing now will get the actual intended colors, not as previously. Fortunately it is not missing by very much, so most of it are still acceptable.

Here is a preview of the calibration process and tools:

Kalibrasi Monitor

Untuk kebutuhan fotografi kita menginginkan hasil dengan warna yang sesuai dengan saat kita memotret, terutama saat berinteraksi dengan manusia misalnya untuk pembuatan portrait, ataupun liputan event-event. Juga saat memotret produk secara komersial, reproduksi warna yang akurat merupakan syarat utama. Dalam hal ini dibutuhkan sarana kerja yang terkalibrasi dengan baik supaya menghasilkan warna yang akurat dan stabil. Salah satu alat yang perlu untuk dikalibrasi adalah display monitor komputer kita.

Menggunakan Spyder 4 Elite proses kalibrasi sangat mudah, tinggal mengikuti saja langkah-langkah panduan pada piranti lunak yang disertakan.

Untuk detail silahkan klik Data Color Spyder 4 Elite

Standard
Review

Pengalaman Menggunakan Kamera Nikon D90

Ngobaran Beach - Iksa Menajang

Awal produksi kamera ini tahun 2008, dan muncul sebagai DSLR pertama yang memiliki kemampuan rekam video (meskipun tidak canggih disisi ini, tetapi tetap memulai trend baru dalam DSLR). Mengenai kehandalannya silahkan simak dari berbagai review dalam link ini.

Saya mulai menggunakan kamera ini saat harganya mulai turun menjadi sekitar 9 juta pada akhir tahun 2009, sebelumnya dikisaran 11 juta rupiah body only (bandingkan dengan Nikon D300 yang masih sekitar 15 jutaan saat itu dan Nikon D700 masih diatas 20 jutaan). Saat ini untuk barunya sekitar 8 jutaan, naik dari level 6.5 jutaan saat dollar belum melonjak. Kenapa ceritanya panjang lebar, ini sekedar menggambarkan bahwa meskipun sudah beredar sejak 6 tahun lalu namun kamera ini masih tetap laris di pasar baik baru maupun bekas.

Kunci - Iksa Menajang

Nah beberapa hal berikut ini yang membuat saya menggunakan kamera Nikon D90 dan tetap menggunakan sampai periode waktu yang lama meskipun keluar banyak seri kamera lain.

# Bisa gunakan lensa AF-D

Ya, ini seri amatiran pertama DSLR Nikon yang bisa gunakan lensa-lensa auto fokus lama, yakni seri AF-D, yang relatif murah dibanding AF-S. Performa lensa-lensa ini juga bantak yang sudah teruji bertahun-tahun, juga banyak di pasar lensa bekas juga. Selain itu juga metering masih jalan untuk seri lensa yang lebih tua lagi, yaitu seri AI dan AIs. Saya bahkan bisa menggunakan lensa auto fokus Tamron 28-300 yang dibeli sejak jaman menggunakan SLR Nikon seri F.

Saat dibeli fitur ini hanya ada pada kamera profesional, sekelas Nikon D300, D700 ke atas. Eh iya ini juga masih tetap sampai sekarang lho, hanya kamera profesional dan semi-profesional saja yang bisa. Untuk seri pemula Nikon D3x00 dan D5x00 wajib pakai lensa AF-S karena tidak ada motor penggerak lensa di body.

Pintu

# Teknologi masih relevan

Meskipun dari sisi Megapixel relatif rendah dibanding DSLR ataupun mirrorless saat ini, namun berbagai kemampuan fotografi yang ada masih tetap relevan untuk saat ini. Sensor dan autofokus tidak menghalangi proses kreatifitas sehari-hari.

Juga dengan adanya live view, sudah sangat membantu meski akibatnya boros baterai. Ini fitur penentu juga saat akan membeli waktu itu. [Saat ini sih live view sudah fitur wajib pada kamera, apalagi pada mirrorless yang Viewfinder malahan optional.]

Bapak yang pede tapi ramah (D90+17-50/2.8 @iso200, f2.8, 1/250)

Bapak yang pede tapi ramah (D90+17-50/2.8 @iso200, f2.8, 1/250)

# Fisik tahan banting

Body kamera sebagian menggunakan magnesium alloy, menjadikan Nikon D90 berbody semi-pro. Kalau pro konon full body menggunakan magnesium alloy. Memang tidak di klaim weather sealed seperti body pro. Tapi pengalaman pribadi kalau cuma hujan kecil tidak masalah. Ke pantai, hutan dan jalan-jalan naik motor aman saja.

Juga seorang travel journalist tulen bahkan membawa Nikon D90 bertualang keliling Afganistan yang penuh debu sampai ke puncak es segala, tidak menemui masalah tuh.

segelas air es siap diminum ... segarnya

segelas air es siap diminum … segarnya

# Harga relatif murah

Nah untuk level pemula yang tidak mementingkan video terlalu bagus, masih konsentrasi penuh pada memotret, dari sisi harga rasanya Nikon D90 adalah DSLR yang sangat memadai. Memang dibanding seri yang lebih baru seperti Nikon D7000/7100 kalah fitur, tetapi harganya juga berbeda lumayan.

Kalau mau lebih murah bisa cari yang bekas tapi masih baik. Dipasangkan dengan lensa AF-D 50mm/1.8 sangat ideal.

Kamera ini sangat saya anjurkan untuk pemula yang mau menggunakan DSLR Nikon. Tentu saja bisa untuk penggunaan profesional dalam liputan-liputan.

Search Nikon D90 di blog ini

Foto pohon di halaman Istana Bogor saat Bogor Photo Walk. (D90 + 17-50mm/2.8+variND filter VC @iso200,f11,1/10)

Foto pohon di halaman Istana Bogor saat Bogor Photo Walk. (D90 + 17-50mm/2.8+variND filter VC @iso200,f11,1/10)

Lihat juga:

Standard