Ganjuran Church in HDR

Not so long ago,

A mighty earthquake shattered,

The whole province,

Taking many casualties.

Survivors have to rebuild from scratch,

Faith is the foundation,

Humanity above all,

Hard work and dedication is the key.

[Ganjuran, 2014]

HDR

A Classical Worship Place

Image

Petak Sembilan - Iksa Menajang

Going inside any worship place

It is a time for us to look

For other sides of our life

And also learn to look

From other sides of our life

As we do not live alone

And we do not just live here

Another place will be for us

Somewhere

At the time we cannot predict

Or expect.

[Jakarta, Petak Sembilan – Imlek 2014]

This is another HDR photo, from 5 frames with base exposure of ISO 100, f/18, 1/2 @24mm (+/- 2 x @1stop).

* After a while not precessing HDR and posting it, now have some time to do basic HDR again.

Teknis Fotografi

Foto ini dibuat HDR dari 5 frame dengan base exposure ISO 100, f/8, 1/2 @24mm (+/- 2 x @1stop).

  1. Pemotretan menggunakan tripod.
  2. Bracketing diset auto bracketing 5 frame mulai dari normal, 2under, 2 over
  3. Menggunakan self-timer 2 detik dengan 5 frame pemotretan berjeda 0.5 detik.
  4. Fokus menggunakan fasilitas live-view, kemudian dimanualkan.
  5. Eksposure disetel manual berdasarkan light meter kamera.

Kesulitan foto pada kontras cahaya luar dengan penerangan di dalam ruangan kelenteng. Kelihatannya rentang 5 stop belum cukup memadai.

Proses pengeditan menggunakan Photomatix Pro, Color Efex Pro dan Lightroom 5.

  1. Kelima bracket diekspor ke Photomatix dari Lightroom, menggunakan file RAW/NEF tanpa olahan.
  2. Dalam Photomatix dicari padanan yang cocok. Dari alternatif yang ada untuk foto ini saya cenderung untuk menggunakan Contrast Optimizer Tone Mapping ataupun Detail Enhancer Tone Mapping. Setelah mencoba lebih detail pada berbagai pilihan slidernya, saya memilih untuk menggunakan Contrast Optimizer, untuk mendapat keseimbangan antara langit, kolong meja, lilin, loteng dan cahaya dari luar..
  3. Karena foto cenderung statis maka tidak digunakan deghosting, toh pergerakan asap dan api cukup menarik bila ada efek geraknya.
  4. Setelah selesai proses HDR maka file dibuka di Color Efex Pro sedikit penyesuaian warna dan detail. Masih nampak banyak bagian yang warnanya masih belum cocok, tetapi agak sulit dibenahi tanpa layer dan masking dari Photoshop.
  5. Setelah itu penyesuaian akhir pada Lightroom meliputi profil lensa yang digunakan, exposure akhir sebelum di ekspor sebagai file JPG untuk penggunaan di web.

Silahkan baca lebih lanjut mengenai HDR pada halaman ini dan pada hasil pencarian HDR di blog ini.

Juga lihat:

HDR

Looking From The Other Side .. HDR Inside A Temple

Image

Situ Gunung HDR - Iksa Menajang

Again

Staring at the beauty

Of the morning sun

Rays of light through the trees

Water vapor from the lake

The empty boat

Is a strange equation

In a place to enjoy scenery.

[Situ Gunung Adventures 2013]

This is another HDR photo, from 9 frames with base exposure of ISO 100, f/11, 1/180 @14mm (+/- 4 x @1stop).

.

Teknis Fotografi

Foto ini dibuat HDR dari 9 frame dengan base exposure ISO 100, f/11, 1/180 @14mm (+/- 4 x @1stop).

  1. Pemotretan menggunakan tripod.
  2. Bracketing diset auto bracketing 9 frame mulai dari normal, 4 under, 4 over
  3. Menggunakan remote wireless.
  4. Fokus menggunakan fasilitas live-view, kemudian dimanualkan.
  5. Eksposure disetel manual berdasarkan light meter kamera.

Sebagaimana kesulitan pada foto-foto sejenis, disini masalah pada matahari yang persis berhadapan dengan lensa/kamera dan masuk ke dalam frame foto sebagai salah satu objek. Bahkan ada refleksi matahari di danau juga.

Proses pengeditan menggunakan Photomatix Pro, Photoshop CC dan Lightroom 5.

  1. Kesembilan bracket diekspor ke Photomatix dari Lightroom, menggunakan file RAW/NEF tanpa olahan.
  2. Dalam Photomatix dicari padanan yang cocok. Dari alternatif yang ada untuk foto ini saya cenderung untuk menggunakan Contrast Optimizer Tone Mapping ataupun Detail Enhancer Tone Mapping. Setelah mencoba lebih detail pada berbagai pilihan slidernya, saya memilih untuk menggunakan Detail Enhancer, untuk mendapat keseimbangan antara langit, matahari dan perahu; juga pada bagian hutan.
  3. Satu hal yang tertinggal dalam proses adalah deghosting, karena foto menggunakan tripod, ternyata kan bagian perahu bisa bergerak karena bersandar pada air.
  4. Setelah selesai proses HDR maka file dibuka di Photoshop untuk tambahan sharpening dan sedikit penyesuaian.
  5. Usai dari Photoshop penyesuaian akhir pada Lightroom meliputi profil lensa yang digunakan, exposure akhir sebelum di ekspor sebagai file JPG untuk penggunaan di web.

Silahkan baca lebih lanjut mengenai HDR pada halaman ini dan pada hasil pencarian HDR di blog ini.

Juga lihat:

HDR

An Empty Boat At The Lake – Another Simple HDR

Another example of HDR photo and how to take the photos. Since HDR photo is not something done instaneously then preparation and thinking must accompany its making. Processing is done with Detail Enhancer Tone Mapping dan finishing in Photoshop. Base exposure of ISO 100, f/11, 1/180 @14mm.

Image
Foto 3 - Final

Foto 3 – Final

Bukittinggi

The city up the hills

In fact the city has a lot of hills

At one of the hills is

Where the mayor’s office resides

A place with beatiful scenery

Where you sit down and imagine good things

Then you have all the energy to work

I hope this brings the best

For the people of Bukittinggi

[Bukittinggi Adventures 2013]

.

Teknis Fotografi

Foto dibuat HDR dari 9 frame dengan exposure dasar ISO 100, f/11, 1/350 @14mm (+/- 4 x @1stop).

  1. Kamera menggunakan tripod, pengaturan agak rendah agar bagian bawah gedung tersamar oleh papan kantor walikota.
  2. Bracketing diatur auto bracket 9 exposure dari normal, under, dan over.
  3. Pemotretan menggunakan selftimer 10 detik dan 9 frame selisih 0.5 detik.
  4. Fokus menggunakan live view, dengan titik fokus yang dikehendaki ada pada bagian papan nama. Dengan diafragma pada f/11 maka cukup untuk mendapatkan bidang tajam yang luas.
  5. Exposure berdasarkan metering pada kamera.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengolahan: adanya matahari dalam frame dan kesulitan pada bidang langit dan awan.

Untuk eksperimen mendapatkan warna yang lebih natural maka foto diolah sebagai berikut:

  • Foto 1, diolah dari 9 frame menggunakan Photomatix Pro. Proses yang digunakan adalah Contrast Optimizer Tone mapping dengan strength dan tone maksimum, sedangkan white, black dan midtone clipping di atur cukup rendah.
Foto 1 - HDR

Foto 1 – HDR

  • Foto 2, dari hasil olahan HDR diolah kembali dengan Silver Efex Pro, untuk mendapatkan file HDR hitam putih.
Foto 2 - Black & White

Foto 2 – Black & White

  • Foto 3, pada Photoshop dibuat dua layer, masing-masing dari Foto 1 (HDR awal, berwarna) dan Foto 2 (BW dari HDR), layer ke dua sebagai overlay dan dengan 50% opacity. Sebetulnya perubahan yang diperoleh hanya sedikit tetapi lebih menyenangkan dilihat.
  • Silahkan membandingkan ketiganya.

Silahkan baca lebih lanjut mengenai HDR  pada halaman ini, pada hasil pencarian HDR di blog ini.

HDR, Post Processing

The Office Of Bukittinggi’s Mayor

HDR photo is created from 9 frames with a base exposure of ISO 100, f/11, 1/350 @ 14mm.
Final image created with Photomatix Pro, Silver Efex Pro and using Photoshop.

Image

Merapi Singgalang HDR - Iksa Menajang

Mount Merapi, on the left side

The shape of the mountain shows that

Once it was huge

And has exploded many times

And the fact is it is still an active volcano until now.

Mount Singgalang, on the right side

The cone shape is perfect

And it is not an active volcano anymore.

This mountains results in fertile land

Where you can grow many things.

[Bukittinggi Adventures 2013]

The photo itself is an HDR from 9 frames, shot using a tripod, bracketed using camera self-timer.

Base frame exposure is ISO100, f/11, 1/250 @14mm.

Teknis Fotografi

Foto dibuat HDR dari 9 frame dengan exposure dasar ISO 100, f/11, 1/250 @14mm (+/- 4 x @1stop).

  1. Kamera menggunakan tripod
  2. Bracketing diatur auto bracket 9 exposure dari normal, under, dan over.
  3. Pemotretan menggunakan selftimer 10 detik dan 9 frame selisih 0.5 detik.
  4. Fokus menggunakan live view, dengan titik fokus yang dikehendaki.
  5. Exposure berdasarkan metering pada kamera.

Photomatix Pro digunakan untuk mengolah foto jadi HDR, selanjutnya penyelesaian pada Photoshop dan Lightroom.

Masalah yang dihadapi disini adalah pada awan putih yang berlapis-lapis, ternyata tidak mudah untuk mendapatkan hasil awan yang teksturnya nampak baik namun warna tetap putih dan langit masih tetap biru. Beberapa pilihan yang biasa digunakan tidak dapat menghasilkan awan dengan tekstur baik dan putih, kebanyakan cenderung menghitamkan awan dan langit. Pilihan terbaik ada pada proses Exposure Fusion atau Contrast Optimizer dengan perlakuan ekstra hati-hati.

Silahkan baca lebih lanjut mengenai HDR pada halaman ini dan pada hasil pencarian HDR di blog ini.

HDR, Landscape

Mount Merapi And Mount Singgalang Viewed From Bukittinggi

HDR Gunung Merapi dan Gunung Singgalang dilihat dari Bukittinggi.
Foto dibuat HDR dari 9 frame dengan exposure dasar ISO 100, f/11, 1/250 @14mm (+/- 4 x @1stop).

Image

Jakarta HDR Nightscape - Iksa Menajang

Yes ..

2013 is going away

We celebrate

All the things we get

In the year to pass

Good, bad, big, small

Everything is a blessing

Give thanks

2014 is coming

We are full of hope

To encounter

Whatever it may bring

And work hard to get

What we aim in life

Still life has many surprises

So be prepared

There are always up and downs

How we perceive the happening is more important

So have a great 2014 all

[Jakarta Nights 2013]

Note:

The photo is a 9 frame HDR made with a base of ISO100, f/6.7, 1″ @14mm – (+/- @ 4×1 stop).

Taken on a tripod, with selftimer for bracketing.

Post processing into HDR with Photomatix Pro’s Contrast Optimizer Tone Mapping. Then made vintage by using NIK’s Analog Efex Pro plugin.

HDR, Post Processing

Soon There Will Be A New Set Of 365 Days

Photo dibuat HDR dari 9 frame dengan base ISO100, f/6.7, 1″ @14mm.
Menggunakan tripod dan selftimer untuk bracketing.
Post processing menjadi HDR dengan Contrast Optimizer Tone Mapping pada Photomatix Pro; selanjutnya diolah vintage dengan plugin Analog Efex Pro dari NIK.

Image

Trees HDR - Iksa Menajang

Green is a color

That relaxed our eyes

Green are the trees

At least in this tropical climate

Suppliers of oxigen

Recycler of carbon

Wide open we must

Care that they are planted

Protect so they grow

[Bogor Adventures 2013]

Kebalikan dari foto HDR pepohonan sebelum ini, rangkaian ini sengaja diambil dengan untuk diolah dengan metode HDR menggunakan base exposure ISO 100, f/2.8, 1/60 @24mm; sebanyak 9 frame (+/- @4 x 1 stop). Ini memang ditujukan untuk mendapatkan perbandingan dengan versi sebelumnya yang difoto pada f/8.0.

Masih seperti sebelumnya, saya pribadi tidak melihat adanya perbedaan nyata atas adanya aplikasi HDR pada hasil olahan ini. Penjelasan secara utuh belum saya peroleh, namun demikian kemungkinan karena meskipun terdapat perbedaan terang dan gelap yang cukup, namun demikian dominasi warna hijau daun dan rerumputan menyebabkan tidak diperolehnya dinamikan warna yang biasa dijumpai pada perlakuan HDR.

Teknis :

  1. Menggunakan tripod.
  2. Bracket diatur sebanyak 9 buah.
  3. Self timer digunakan selama 10 detik, dengan 9 frame pemotretan selang 0.5 detik.
  4. Penentuan base exposure berdasarkan metering kamera dengan kompensasi -0.5
  5. Setting exposure Manual dan Fokus manual.

Hasil foto diolah dengan menggunakan Photomatix Pro, memakai Contrast Optimizer Tone Mapping. Hasil akhir pada Photoshop CC.

Silahkan baca lebih lanjut mengenai HDR pada halaman ini dan pada hasil pencarian HDR di blog ini.

HDR

Eff Two Point Eight – Simple Trees HDR Wide Open

This photo is a wide open HDR of trees in the park, taken at f/2.8 as comparison for the prior HDR taken at f/8.0.

Image